Keyakinan Tiongkok Meningkat dan Persepsi Kemunduran AS

6

Peristiwa baru-baru ini, termasuk pembukaan jembatan tertinggi di dunia di Provinsi Guizhou, Tiongkok, menyoroti kesenjangan yang semakin besar dalam cara Amerika Serikat dan Tiongkok memandang posisi global mereka. Meskipun Tiongkok memproyeksikan peningkatan rasa percaya diri, bahkan membual tentang pencapaian infrastrukturnya di media pemerintah, beberapa pengamat di AS mengungkapkan rasa frustrasinya atas penurunan ambisi dan proyek berskala besar.

Jembatan Guizhou sebagai Simbol

Jembatan yang baru selesai dibangun—menjulang lebih dari 200 lantai di atas sungai—telah menjadi titik fokus perbedaan ini. Televisi pemerintah Tiongkok tidak hanya menggunakannya sebagai platform untuk menampilkan modernisasi, tetapi juga menarik perhatian media dan komentator Barat. Seorang influencer Kanada secara terbuka mengakui bahwa negara-negara Barat hanya bisa “memimpikan” proyek-proyek semacam itu, sementara seorang komentator sayap kanan AS mempertanyakan mengapa Amerika tidak lagi melakukan hal serupa.

Ini bukan hanya soal infrastruktur; hal ini mencerminkan pergeseran yang lebih mendalam dalam narasi nasional.

Tumbuhnya Kepercayaan Diri di Tiongkok

Kepercayaan diri Tiongkok terlihat jelas. Meskipun terdapat tantangan ekonomi yang nyata – termasuk perlambatan ekonomi, krisis perumahan, dan penurunan angka kelahiran – negara ini tetap yakin akan keunggulan model pemerintahannya dan peningkatan yang tidak dapat dihindari. Citra diri ini diperkuat oleh pencapaian nyata seperti jembatan Guizhou, yang berfungsi sebagai simbol kuat ambisi dan kehebatan teknik Tiongkok.

Strategi AS dan Persepsi Mundur

Sementara itu, Amerika Serikat bersikap lebih tenang, khususnya dalam strategi keamanan nasional terbarunya. Dokumen ini menggambarkan Tiongkok terutama sebagai pesaing ekonomi, bukan sebagai pesaing komprehensif dalam bidang militer, teknologi, atau ideologi. Hal ini menunjukkan perubahan yang signifikan dari pemerintahan sebelumnya, bahkan pemerintahan yang dipimpin oleh presiden yang sama.

Analis Tiongkok menafsirkan perubahan ini sebagai bukti kemunduran Amerika, yang menunjukkan bahwa AS kehilangan minat untuk menantang kemajuan Tiongkok. Persepsi seperti itu semakin menambah keberanian Tiongkok dan berpotensi memicu frustrasi di AS.

Kesenjangan yang semakin lebar antara rasa percaya diri Tiongkok dan pendekatan AS yang lebih terkendali menggarisbawahi adanya pergeseran geopolitik yang signifikan, dengan potensi implikasi terhadap dinamika kekuatan global.

Ini bukan hanya soal kebanggaan nasional; Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai posisi strategis jangka panjang dan apakah AS kalah dalam bidang persaingan utama.