TikTok Tetap di Tangan AS: Apa Arti Perubahan bagi Pengguna

16

TikTok akan terus beroperasi di Amerika Serikat di bawah kepemilikan mayoritas baru di AS, untuk menghindari kemungkinan larangan yang telah diupayakan oleh anggota parlemen selama bertahun-tahun. Langkah ini dilakukan setelah tekanan politik yang kuat mengenai keamanan data dan kontrol konten, dimana para pejabat AS menyatakan keprihatinan atas hubungan aplikasi tersebut dengan perusahaan induknya di Tiongkok, ByteDance.

Tahun Pengawasan

Selama bertahun-tahun, politisi AS menuntut ByteDance mendivestasi TikTok ke entitas Amerika. Argumen inti berpusat pada kekhawatiran bahwa pemerintah Tiongkok dapat mengakses data pengguna atau memanipulasi algoritma aplikasi untuk tujuan propaganda. Meskipun bukti adanya kegiatan mata-mata masih belum terbukti, momentum politik tersebut berujung pada penjualan paksa, yang berpuncak pada pembentukan TikTok USDS Joint Venture LLC.

Struktur Kepemilikan Baru

TikTok USDS Joint Venture LLC sekarang mengendalikan operasi TikTok di AS, bersama dengan aplikasi ByteDance lainnya seperti CapCut dan Lemon8. Meskipun ByteDance mempertahankan 19,9% saham, kepemilikan mayoritas berada di tangan investor AS, termasuk Silver Lake (ekuitas swasta), Oracle (IT), dan MGX (perusahaan investasi UEA). Kepemilikan tambahan dipegang oleh perusahaan seperti Dell Family Office dan Susquehanna International Group. Pergeseran ini memastikan bahwa data pengguna AS akan disimpan dalam server cloud domestik Oracle, sebuah langkah yang diambil untuk mengatasi masalah keamanan.

Dampak pada Algoritma dan Konten

Kepemilikan baru ini berarti pengguna TikTok di AS akan mengalami perubahan algoritme yang disesuaikan dengan preferensi dan sensitivitas politik Amerika. Algoritme ini akan dilatih ulang menggunakan data AS, yang disimpan di cloud Oracle, sehingga berpotensi membatasi visibilitas konten yang dianggap sensitif secara politik (misalnya, perspektif pro-Palestina). Meskipun konten pembuat konten Amerika akan tetap dibagikan secara global, masih belum jelas apakah pengguna Amerika akan terus melihat konten internasional yang beragam.

Kepemimpinan dan Pengawasan

Usaha patungan ini dipimpin oleh Adam Presser dan Will Farrell, keduanya mantan karyawan TikTok. Sebuah dewan beranggotakan tujuh orang, dengan mayoritas perwakilan Amerika, akan mengawasi operasi tersebut. Khususnya, CEO TikTok Singapura, Shou Chew, juga akan menjabat sebagai direktur.

Perubahan ini mencerminkan tren peningkatan ketegangan geopolitik yang meluas ke sektor teknologi. Pemerintah semakin menegaskan kendali atas platform digital, dan memprioritaskan keamanan nasional dibandingkan akses terbuka. Apakah pendekatan ini pada akhirnya melindungi data pengguna atau menghambat kebebasan berekspresi masih harus dilihat.

Pada akhirnya, TikTok akan tetap bertahan, namun akan beroperasi berdasarkan aturan baru, yang dibentuk oleh kepentingan dan pengawasan Amerika. Hal ini menjadi preseden mengenai bagaimana perusahaan teknologi milik asing lainnya mungkin ditekan untuk beradaptasi dengan tuntutan AS.