Kongres Menghadapi Tekanan yang Meningkat Atas Kebijakan Luar Negeri Trump

9

Manuver kebijakan luar negeri pemerintahan Trump yang agresif, mulai dari Venezuela hingga Greenland, memaksa Kongres untuk menentang perannya dalam mengendalikan kekuasaan presiden. Meskipun pemerintahan masa lalu juga telah memperluas batas-batas konstitusional, kesediaan Trump untuk secara terbuka membahas intervensi militer dan bahkan pembelian negara-negara berdaulat meningkatkan ketegangan di Capitol Hill.

Preseden Venezuela dan Tanggapan Kongres

Situasi di Venezuela, di mana AS secara terbuka mendukung pergantian rezim, menjadi preseden yang mengkhawatirkan. Meskipun pemerintahan berjalan tanpa persetujuan kongres resmi, resolusi kekuatan perang baru-baru ini menyebabkan lima anggota Partai Republik memutuskan hubungan dengan Gedung Putih, yang menandakan meningkatnya kegelisahan di dalam Partai Republik. Pemerintah merespons dengan cepat, secara terbuka mempermalukan para senator yang berbeda pendapat.

Di balik layar, tokoh-tokoh seperti Menteri Rubio memainkan peran penting dalam mengurangi dampak buruk tersebut, dengan meyakinkan Partai Republik bahwa tidak ada pasukan AS yang akan dikerahkan. Episode ini menyoroti bagaimana Trump menekan sekutunya agar patuh—dan bagaimana beberapa negara mulai menolaknya.

Greenland: Titik Nyala Baru

Obsesi Presiden terhadap Greenland, sekutu NATO, telah memicu kekhawatiran yang lebih luas. Berbeda dengan Venezuela, di mana intervensi setidaknya dilakukan dalam konteks regional, gagasan untuk mengakuisisi Greenland melalui kekerasan atau pembelian meningkatkan kekhawatiran di kalangan Partai Demokrat dan Republik.

Tokoh-tokoh Partai Republik terkemuka, termasuk Ketua DPR dan ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, secara terbuka menentang tindakan militer atau pembelian paksa. Secara pribadi, banyak anggota Partai Republik berharap Trump akan membatalkan gagasan tersebut karena khawatir akan semakin merusak kredibilitas AS.

Erosi Otoritas Kongres

Krisis yang terjadi saat ini bukanlah hal baru. Kongres telah menyerahkan kekuasaan perang secara bertahap selama beberapa dekade. Mulai dari intervensi Obama di Libya dan Pakistan hingga tindakan agresif Trump, lembaga legislatif semakin tunduk pada otoritas eksekutif.

Pertanyaan sebenarnya sekarang bukanlah apakah Kongres dapat bertindak, namun apa yang pada akhirnya akan memaksa Kongres untuk mengambil garis tegas. Peristiwa yang terjadi di Venezuela dan Greenland hanyalah gejala terbaru dari masalah kelembagaan yang lebih dalam: semakin terkikisnya pengawasan Kongres dalam urusan luar negeri.

Isunya tidak lagi bersifat partisan; ini tentang melindungi institusi Kongres dan menegaskan kembali peran konstitusionalnya dalam menentukan perang dan perdamaian.

Jika anggota Partai Republik di Kongres tidak bertindak tegas, mereka berisiko dianggap terlibat dalam perluasan kekuasaan presiden yang berbahaya dan dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang bagi kebijakan luar negeri AS.